Tips Agar Obesitas Tidak Menyerang Jantung, Obesitas dan penyakit jantung
memiliki hubungan yang sangat erat, dimana Obesitas sudah menjadi
sebuah epidemi di negara maju, ukuran objektif obesitas biasanya dinilai
dari nilai IMT, dimana ukuran international untuk obesitas adalah
IMT ≥ 30 kg/m 2 , sedangkan untuk ukuran orang Asia obesitas didefinisikan dengan nilai
IMT ≥ 25 kg/m 2 (WHO/IOTF/IASO, 2011). Obesitas memiliki hubungan yang erat dengan tingginya kejadian PJPD. Obesitas dapat
meningkatkan kadar trigliserida yang buruk untuk kesehatan jantung
dan menurunkan kadar HDL yang bersifat kardioprotektif (Nursalim,
2011). Selain itu, seiring meningkatnya obesitas, maka hipertensi juga
meningkat. Obesitas juga dapat menyebabkan disfungsi diastolik dan
berhubungan dengan memburuknya fungsi sistolik (Artham, 2009).
Berdasarkan data WHO (2008), prevalensi obesitas pada usia dewasa di Indonesia
sebesar 9,4% dengan pembagian pada laki-laki mencapai 2,5% dan pada
perempuan 6,9%. Survey sebelumnya pada tahun 2000, persentase penduduk
Indonesia yang obesitas hanya 4,7% (±9,8 juta jiwa).Ternyata hanya dalam
8 tahun, prevalensi obesitas di Indonesia telah meningkat dua kali
lipat, Sehingga kita perlu mewaspadai peningkatan yang lebih pesat
dikarenakan gaya hidup sekarang yang semakin sedentary (santai dan
bermalas-malasan) sebagai akibat dari kemudahan teknologi. Obesitas
merupakan faktor risiko terhadap kejadian PJPD. Kelebihan berat badan
mempengaruhi faktor resiko penyakit kardiovaskular seperti peningkatan
level LDL, trigliserida, tekanan darah, kadar gula darah dan menurunkan
kadar HDL serta meningkatkan resiko perkembangan penyakit jantung
koroner, gagal jantung, stroke dan aritmia.
Mencapai
dan menjaga berat badan yang sehat selama hidup merupakan salah satu
faktor utama untuk menurunkan resiko PJPD. (Dinkes Prov Yogyakarta,
2014).
Data dari Framingham (2008), menunjukkan bahwa apabila
setiap individu mempunyai berat badan optimal, maka akan terjadi
penurunan kejadian
penyakit jantung koroner
sebanyak 25% dan stroke/cerebro vascular accident (CVA) sebanyak 3,5%.
Penurunan berat badan diharapkan dapat menurunkan tekanan darah,
memperbaiki sensitivitas insulin, pembakaran glukosa dan menurunkan
dislipidemia (Malau, 2011).
Laporan FAO/WHO/UNU (1985), menyatakan
bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan
nilai Body Mass Index (BMI). Di Indonesia istilah Body Mass Indeks
diterjemahkan menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan alat yang
sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang
berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka
mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai
usia harapan hidup lebih panjang penggunaan IMT berlaku untuk orang yang
berumur > 18 tahun (Lutfah, 2013).
Adapun rumus perhitungan IMT menurut Lutfah (2013) adalah sebagai berikut:
IMT = Berat Badan (kg) : Tinggi Badan (m)x Tinggi Badan (m)
Menurut
Waspadji (2003), obesitas merupakan faktor independen terhadap penyakit
jantung koroner, berhubungan erat dengan kadar kolesterol serum,
tekanan darah, dan toleransi glukosa. Pada penelitiannya menunjukkan
bahwa penderita yang memiliki IMT >25 lebih banyak yang menderita
penyakit jantung koroner.
Selengkapnya tentang obat jantung koroner herbal